ROTASI BENDA TEGAR
A. Persamaan Gerak Rotasi
Untuk mendeskripsikan gerak
rotasi, digunakan
besaran-besaran yang sama dengan besaran-besaran pada gerak melingkar. Besaran-besaran itu di antaranya
adalah kecepatan linier dan kecepatan
sudut. Pada gerak translasi, kita memiliki beberapa persamaan penting
yang menghubungkan percepatan, kecepatan
dan jarak untuk situasi percepatan linier
beraturan. Persamaan-persamaan tersebut diturunkan dari definisi kecepatan dan percepatan linier dengan menganggap percepatan konstan. Definisi kecepatan sudut dan percepatan sudut sama dengan kecepatan
dan percepatan linier, kecuali
bahwa q menggantikan perpindahan linier x, w menggantikan v, dan a menggantikan a. Dengan demikian, persamaan-persamaan
sudut untuk percepatan sudut konstan akan analog dengan beberapa persamaan gerak
linier. Tabel 1 menunjukkan beberapa persamaan gerak rotasi yang analog dengan persamaan gerak translasi
Tabel 1. Persamaan-Persamaan
Sudut
B. Momen Gaya
Pada gerak rotasi, sebuah benda hanya dapat berubah geraknya
dari diam menjadi berputar jika pada benda itu diterapkan sebuah gaya.
Perubahan gerak pada gerak rotasi berupa perubahan kecepatan sudut. Perubahan gerak rotasi terjadi karena adanya “gaya pemutar” yang disebut dengan momen gaya (torsi).
Seperti yang
telah jelaskan di atas, bahwa untuk membuat
sebuah benda mulai berotasi sekitar sumbu, jelas diperlukan gaya.
Tetapi arah gaya ini, dan dimana diberikannya merupakan hal yang penting. Pada Gambar 1 menunjukkan sebuah pintu yang dilihat dari atas. Jika gaya F1 dan gaya F2 diberikan tegak lurus terhadap pintu, maka makin besar nilaiF1 makin
cepat pula pintu terbuka (diasumsikan
jika gesekan pada engsel diabaikan).
Jika diasumsikan F2 = F1, tetapi jaraknya lebih dekat ke engsel, maka pintu tidak terbuka sedemikian cepat karena efek
gaya lebih kecil.
Lengan gaya didefinisikan sebagai jarak tegak lurus sumbu rotasi ke garis kerja gaya, yaitu jarak yang tegak lurus terhadap sumbu rotasi dan garis imajiner yang ditarik sepanjang arah gaya. Jelas bahwa gaya yang diberikan dengan suatu sudut seperti F3 (Gambar 2) akan lebih tidak efektif daripada gaya dengan besar yang sama yang diberikan lurus seperti F1 (Gambar 2.a). Jika ujung pintu didorong sedemikian rupa sehingga gaya diarahkan pada engsel (sumbu rotasi), sebagaimana ditunjukkan oleh gaya F4, maka pintu tidak akan berotasi sama sekali.
Lengan gaya untuk gaya F3 ditemukan
dengan cara menarik garis sepanjang
arah gaya F3 (garis kerja F3). Kemudian garis
lain digambarkan tegak
lurus terhadapnya, dan menuju
sumbu. Panjang garis kedua ini merupakan
lengan gaya untuk F3 dan disebut
sebagai r3 (Gambar
2.b). Lengan gaya tegak lurus terhadap garis kerja gaya dan di ujung yang
lainnya tegak lurus terhadap sumbu rotasi.
Besar torsi didefinisikan sebagai hasil kali gaya dengan lengan gaya. Jika r⊥ adalah lengan gaya
dan tanda tegak lurus (⊥) mengingatkan bahwa kita harus menggunakan jarak dari sumbu rotasi yang tegak lurus terhadap garis kerja gaya (Gambar 3.a). Maka secara umum
torsi dapat dituliskan :
t = r^ F
Gambar 3. Momen
Gaya (Torsi)
Komponen FII
tidak memberikan torsi karena diarahkan
ke sumbu rotasi
(lengan momennya adalah nol). Dengan demikian
torsi akan sama dengan F^ dikalikan jarak r dari sumbu
ke titik dimana gaya diberikan
:
t = rF^
Dapat dilihat
dari kenyataan bahwa F^ = F sin q dan r = r^ sin q (dimana q adalah sudut antara arah F dan r). Jadi rumus di atas dapat dinyatakan sebagai :
t = rF
sin q
Contoh 1 :
Otot bisep memberikan
gaya ke atas pada lengan bawah sebagaimana
ditunjukkan Gambar (a) dan (b).
Untuk masing-masing kasus, hitung
torsi sekitar sumbu rotasi
melalui sendi siku, dengan menganggap bahwa otot melekat
5 cm dari siku sebagaimana ditunjukkan gambar.
Pembahasan :
Untuk gambar (a)
:
F = 700 N
r^ = 0,05 m
Sehingga
diperoleh,
t = r^ F = (0,05 m)(700 N) = 35 m.N
Sehingga diperoleh,
Untuk gambar (b),
karena lengan membentuk sudut, maka lengan gaya lebih pendek :
r^ = (0,05 m) sin 600
Sedangkan F tetap
700 N. Maka diperoleh :
t = (0,05 m) sin60o (700 N)
= 30 m.N
C. Momen Inersia
Pada gerak
translasi, massa dijadikan ukuran kelembaman benda (inersia) yaitu ukuran yang menyatakan
tanggapan benda terhadap perubahan
pada keadaan geraknya. Jika massa
benda besar, maka benda sukar dipercepat atau sukar diubah geraknya,
tetapi sebaliknya jika massa benda
kecil, maka benda mudah dipercepat
atau mudah diubah geraknya.
Pada gerak
rotasi besaran yang analog dengan massa
adalah momen inersia. Dengan demikian momen inersia merupakan ukuran kelembaman benda
yang berotasi atau berputar pada sumbu putarnya. Momen inersia
(I) dari sebuah partikel bermassa m
didefinisikan sebagai :
I = mr2
Dari persamaan di atas dapat dikatakan bahwa besar momen inersia sebuah partikel sebanding dengan massa partikel itu dan sebanding dengan kuadrat jarak partikel ke sumbu putarnya. Sebuah benda tegar disusun
oleh banyak partikel yang terpisah satu dengan yang lain. Maka momen inersia sebuah benda terhadap suatu sumbu
putar dapat dipandang sebagai jumlah
aljabar momen-momen
inersia partikel-partikel penyusunnya. Jika massa partikel-partikel penyusun itu adalah m1,
m2, m3, ….. dan jarak masing-masing partikel
terhadap sumbu putarnya adalah r1,
r2, r3
…. Maka momen inersia benda terhadap sumbu
tersebut adalah :
Iåmr2 = m1r12
+ m1r12
+ ...
Tabel 2. Momen Inersia Beberapa
Benda
Jika sebuah partikel dengan massa m berotasi membentuk
lingkaran dengan radius
r dari ujung sebuah tali yang massanya diabaikan.
Anggap gaya F bekerja pada partikel tersebut.
Maka torsi yang mengakibatkan percepatan sudut adalah t = rF . Jika dikaitkan dengan Hukum II
Newton
F = mat, dimana atan = ra, maka diperoleh :
F = mat, dimana atan = ra, maka diperoleh :
D. Energi Kinetik
Rotasi
Jika nilai
½ mv2 merupakan
energi kinetik benda
yang mengalami gerak translasi, maka benda yang berotasi pada sebuah sumbu dikatakan memiliki energi kinetik
rotasi yang dapat diturunkan dari energi kinetik
translasi. Dengan mendefinisikan bahwa v = rw dan mr2 = I, maka diperoleh:
EK Rotasi = ½ m(rw2) = ½ mrw2 = Iw2
Jika sebuah
benda bergerak translasi sambil berotasi (menggelinding),
maka
benda itu akan memiliki total energi kinetik yang sama dengan jumlah energi kinetik translasi dan
energi kinetik rotasinya.
EK Total = EK Translasi
+ EK Rotasi = ½ mv2 + ½ Iw2
Usaha yang dilakukan t yang tetap dalam memutar benda sebanyak
q adalah :
W = tq
Sedangkan daya yang dikeluarkan t pada benda
adalah :
W = tw
Contoh 2 :
Pembahasan :
Gunakan Hukum kekekalan energi dengan memperhitungkan energi kinetik rotasi. Energi
total pada tiap titik dengan jarak y di
atas dasar bidang miring adalah :
ETotal = ½ Mv2 + ½ Iw2 + Mgy
Jika pada posisi puncak bidang miring diketahui
y = H dan v = w = 0, sedangkan pada posisi dasar bidang miring diketahui y = 0, maka energi
totalnya :
ETot Awal = ETot
Akhir
½ Mv12 + ½ Iw12 + MgH1 = ½ Mv22
+ ½ Iw22 + MgH2
0 + 0 + MgH = ½ Mv22 + ½
Iw22 + 0
|
Dari persamaan
di atas tampak bahwa nilai
v tidak bergantung pada massa M maupun radius R dari bola tersebut.
E. Momentum Sudut
Momentum
sudut (L) untuk
benda yang berotasi
didefinisikan
sebagai
kuantitas
atau ukuran gerak rotasi (kekuatan dari
putaran). Karena pada gerak rotasi momen inersia (I) merupakan analogi dari massa (m) suatu benda dan kecepatan sudut (w) pada gerak rotasi
analogi dengan kecepatan linier (v) pada
gerak
translasi,
maka momentum sudut
dinyatakan :
L = Iw
Satuan momentum
sudut (L) yaitu kg.m2/s
dan arahnya searah dengan arah putaran atau rotasinya.
Hukum
kekekalan momentum sudut untuk benda yang berotasi menyatakan bahwa “momentum sudut total pada benda yang berotasi tetap konstan jika torsi total yang bekerja padanya sama dengan nol”.
Pada gerak translasi
berlaku Hukum II Newton, sebagai berikut :
REFERENSI
:









Tidak ada komentar:
Posting Komentar